Ulasanrakyat.Com – Musi Rawas.
Gelombang emosi pecah di Gedung DPRD Musi Rawas, Kamis (02/04/2026). Aksi puluhan massa dari Aliansi Peduli Sopiah (APS) yang datang membawa tuntutan keadilan, berubah menjadi momen haru ketika Ketua DPRD Musi Rawas, Firdaus Cik Olah (FCO), tak kuasa menahan tangisnya di hadapan publik.
Aksi tersebut awalnya berjalan seperti unjuk rasa pada umumnya.
Massa menyuarakan keresahan dan mendesak agar kasus kematian Sopiah (21), warga Desa Sungai Pinang, Kecamatan Muara Lakitan, segera diungkap. Mereka meminta FCO tidak tinggal diam, bahkan menuntut agar Ketua DPRD segera memanggil Kapolres Musi Rawas untuk mempercepat proses hukum.
Namun suasana berubah drastis ketika FCO merespons langsung tuntutan tersebut. Dengan suara bergetar dan wajah memerah, ia mengungkap fakta yang mengejutkan. Sopiah bukan sekadar warga biasa, melainkan bagian dari keluarganya sendiri.
“Ketika kalian menyebut nama Sopiah, saya ini sedih. Sopiah itu keponakan saya. Saya lebih peduli terhadap kejadian ini, dan ini aib keluarga kami,” ucapnya, menahan tangis.
Pernyataan itu seolah memecah batas antara jabatan publik dan luka pribadi. Di satu sisi, FCO berdiri sebagai pejabat yang dituntut bertindak. Di sisi lain, ia adalah keluarga yang tengah berduka.
Meski demikian, tekanan dari massa tak surut. Dalam orasi mereka, APS tetap mendesak langkah konkret, menilai bahwa posisi FCO sebagai Ketua DPRD seharusnya mampu memberikan dorongan kuat terhadap aparat penegak hukum.
Menanggapi hal itu, FCO menegaskan bahwa dirinya tidak pernah abai. Ia mengaku telah bekerja di balik layar dan memilih tidak mengekspose setiap langkah yang diambil.
“Cara kerja saya silent. Saya sepenuhnya mempercayai kinerja pihak kepolisian. Saya sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian Kepahiang agar kasus ini segera terungkap,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa tidak semua proses bisa dibuka ke publik karena berkaitan dengan strategi penyelidikan. Menurutnya, keterbatasan informasi bukan berarti tidak ada kerja yang dilakukan.
“Saya tidak berdiam diri. Kalian bisa menilai, bahkan mendesak saya mundur. Tapi ini dinamika jabatan saya. Kalau memang peduli, mari kita sama-sama mendukung agar kasus ini cepat terungkap,” lanjutnya.
Aksi tersebut sejatinya sempat diapresiasi oleh FCO di awal kedatangan massa. Ia mengucapkan terima kasih atas kepedulian masyarakat. Namun, narasi yang berkembang dalam orasi yang menuding dirinya tidak peduli menjadi pemicu utama luapan emosi tersebut.
Di tengah situasi yang memanas, satu hal menjadi jelas: kasus kematian Sopiah kini telah meluas menjadi isu publik yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya keluarga, tetapi juga mahasiswa dan simpatisan ikut mengawal kasus ini.
Bahkan, sebagai bentuk solidaritas dan harapan akan keadilan, keluarga bersama elemen masyarakat berencana menggelar doa bersama di Masjid Darussalam Muara Beliti pada Jumat (03/04/2026). Kegiatan ini menjadi simbol dukungan moral kepada aparat kepolisian agar mampu mengungkap misteri kematian Sopiah secara terang benderang.
Peristiwa ini menggambarkan bagaimana sebuah tragedi bisa menjelma menjadi tekanan sosial yang besar. Di satu sisi, publik menuntut transparansi dan keadilan. Di sisi lain, seorang pejabat publik harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kasus yang disorot adalah luka dalam keluarganya sendiri.
Kini, harapan tertuju pada aparat penegak hukum. Publik menanti, apakah desakan yang kian menguat ini akan mempercepat pengungkapan kasus, atau justru memperpanjang polemik yang sudah sarat emosi.
(Red/An).
