Ulasanrakyat.com – Muara Beliti. Sebuah langkah besar tengah dibangun di Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti. Produk tempe hasil karya warga binaan yang selama ini menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian kini mulai menarik perhatian berbagai pihak. Terbaru, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Muara Beliti melakukan kunjungan langsung untuk meninjau potensi kerja sama produksi tempe yang dinilai memiliki prospek menjanjikan dalam mendukung kebutuhan pangan bergizi masyarakat.
Kunjungan yang berlangsung pada Jumat (19/06/2026) tersebut menjadi bukti bahwa program pembinaan di dalam lapas mampu menghasilkan karya produktif yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Tim SPPG Muara Beliti yang datang ke Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti disambut oleh jajaran Seksi Kegiatan Kerja (Giatja). Dalam kunjungan itu, rombongan melakukan peninjauan secara langsung ke lokasi produksi tempe yang selama ini dikelola oleh warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan keterampilan.
Peninjauan dilakukan secara menyeluruh. Tim SPPG melihat proses produksi mulai dari pemilihan bahan baku kedelai, proses perendaman, fermentasi, pengemasan, hingga kualitas produk yang siap dipasarkan. Tidak hanya itu, aspek kebersihan tempat produksi dan kapasitas produksi harian juga menjadi perhatian utama dalam penilaian tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun sinergi antara Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti dengan berbagai instansi dan stakeholder. Tujuannya tidak hanya meningkatkan produktivitas hasil karya warga binaan, tetapi juga membuka peluang pemasaran yang lebih luas sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah dan manfaat yang lebih besar.
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti, Herdianto, melalui Kepala Seksi Kegiatan Kerja Albert menjelaskan bahwa program produksi tempe merupakan salah satu bentuk pembinaan unggulan yang telah berjalan dan memberikan dampak positif bagi warga binaan.
Menurut Albert, pembinaan kemandirian menjadi bagian penting dalam proses pemasyarakatan karena memberikan keterampilan praktis yang dapat digunakan warga binaan setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Kami menyambut baik kunjungan dari SPPG Muara Beliti sebagai bentuk dukungan terhadap program pembinaan kemandirian yang ada di Lapas. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat terjalin kerja sama yang berkelanjutan sehingga hasil produksi warga binaan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Albert.
Ia menambahkan, pihak lapas terus berupaya meningkatkan kualitas hasil produksi warga binaan agar mampu bersaing dan diterima oleh berbagai kalangan. Dengan adanya dukungan dari instansi terkait, peluang pengembangan usaha warga binaan akan semakin terbuka.
Di sisi lain, pihak SPPG Muara Beliti memberikan apresiasi atas inovasi pembinaan yang dilakukan oleh Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti. Produksi tempe yang dijalankan warga binaan dinilai memiliki prospek cerah karena merupakan salah satu sumber protein nabati yang penting untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat.
Tempe sendiri dikenal sebagai makanan bergizi tinggi yang kaya protein, mudah dijangkau masyarakat, dan menjadi salah satu menu penting dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Karena itu, keberadaan usaha produksi tempe di dalam lapas dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk pangan, program ini juga menjadi sarana pembentukan karakter dan peningkatan keterampilan warga binaan. Mereka tidak hanya belajar proses produksi, tetapi juga memahami pentingnya disiplin, tanggung jawab, kerja sama tim, serta manajemen usaha sederhana yang dapat menjadi bekal ketika bebas nanti.
Kunjungan SPPG Muara Beliti sekaligus menjadi bukti bahwa hasil pembinaan di lapas mampu mendapat kepercayaan dari berbagai pihak. Ini menjadi motivasi tersendiri bagi warga binaan untuk terus meningkatkan kualitas produk yang mereka hasilkan.
Apabila kerja sama ini terealisasi, maka manfaatnya akan dirasakan oleh banyak pihak. Warga binaan memperoleh kesempatan mengembangkan keterampilan dan meningkatkan produktivitas, sementara masyarakat mendapatkan akses terhadap produk pangan bergizi yang berkualitas.
Sinergi antara Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti dan SPPG Muara Beliti diharapkan menjadi langkah awal lahirnya kolaborasi yang lebih luas dalam mendukung program ketahanan pangan, pemberdayaan warga binaan, serta peningkatan kualitas layanan pemenuhan gizi di Kabupaten Musi Rawas.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh semangat kebersamaan. Dari balik tembok lapas, harapan baru pun tumbuh. Sebab, pembinaan yang tepat tidak hanya mampu mengubah perilaku seseorang, tetapi juga mampu melahirkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat dan masa depan yang lebih baik bagi warga binaan.
(Red/An)
