Ulasanrakyat.Com – Musi Rawas. Pemadaman listrik kembali terjadi di wilayah Kabupaten Musi Rawas dan kembali menyisakan kekecewaan mendalam di tengah masyarakat. Kali ini, pemadaman listrik PLN terjadi tepat pada waktu krusial, yakni saat umat Islam hendak melaksanakan sholat Magrib.
Peristiwa ini terjadi di Desa Suro, Kecamatan Muara Beliti, pada Minggu (08/02/2026). Berdasarkan keterangan warga, listrik PLN padam diperkirakan sekitar pukul 18.30 WIB, bertepatan dengan azan Magrib berkumandang, dan hingga berita ini diturunkan, aliran listrik belum juga kembali normal atau belum hidup.
Situasi tersebut sontak memicu keluhan dan kemarahan warga. Pasalnya, pemadaman listrik di waktu ibadah dinilai sebagai bentuk ketidakpekaan PLN terhadap kebutuhan dasar masyarakat, khususnya dalam menjalankan kewajiban agama.
“Ini bukan pertama kali. Hampir sering terjadi, dan anehnya selalu di waktu-waktu penting. Saat Magrib, lampu mati. Seolah-olah kami tidak dihargai saat mau beribadah,” keluh salah satu warga Desa Suro.
Beberapa warga mengaku terpaksa melaksanakan sholat Magrib dengan penerangan seadanya, menggunakan lilin atau senter ponsel. Bagi sebagian masyarakat, kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga kekhusyukan dalam beribadah.
Ironisnya, hingga berjam-jam setelah pemadaman terjadi, tidak ada penjelasan resmi dari pihak PLN terkait penyebab padamnya listrik tersebut. Ketiadaan informasi ini semakin memperbesar kekecewaan warga, yang merasa diabaikan sebagai pelanggan yang rutin membayar tagihan listrik.
“Kalau memang ada gangguan, seharusnya ada pemberitahuan. Jangan tiba-tiba mati, apalagi pas azan Magrib. Kami ini pelanggan, bukan minta gratis,” ujar warga lainnya dengan nada kecewa.
Pemadaman listrik yang terjadi berulang kali ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: ada apa dengan kinerja PLN di Kabupaten Musi Rawas? Mengapa pemadaman kerap terjadi tanpa pemberitahuan dan berulang di jam-jam sensitif?
Masyarakat Desa Suro berharap pihak PLN tidak hanya diam, tetapi segera memberikan klarifikasi terbuka sekaligus melakukan evaluasi serius. Warga menuntut pelayanan yang lebih profesional, transparan, dan menghormati nilai-nilai sosial serta keagamaan masyarakat setempat.
Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap PLN akan semakin menurun. Listrik bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi juga bagian penting dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Hingga saat ini, warga Desa Suro masih menunggu itikad baik dan tanggung jawab dari pihak PLN untuk menjelaskan penyebab pemadaman dan memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali, terutama di waktu-waktu ibadah.
(Red/An)
