Ulasanrakyat.com – Muara Beliti.
Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti terus membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani pidana, tetapi juga menjadi ruang pembinaan yang melahirkan keterampilan dan harapan baru bagi warga binaan.
Komitmen tersebut kembali terlihat pada Selasa (04/08/2026) melalui kegiatan perawatan rutin tanaman pakcoy hidroponik di area Giatja. Kegiatan yang melibatkan petugas bersama warga binaan ini menjadi bagian penting dari program pembinaan kemandirian berbasis pertanian modern yang terus dikembangkan secara berkelanjutan.
Setiap hari, tanaman pakcoy mendapatkan perawatan intensif. Mulai dari membersihkan instalasi hidroponik, memeriksa aliran air, memastikan nutrisi tetap stabil, mengawasi pertumbuhan tanaman hingga melakukan pengendalian hama agar kualitas tanaman tetap terjaga. Perawatan yang dilakukan secara konsisten tersebut menjadi kunci utama dalam menghasilkan sayuran segar yang sehat, berkualitas, dan memiliki nilai jual.
Namun di balik hamparan hijau pakcoy itu, tersimpan tujuan yang jauh lebih besar. Program ini bukan sekadar menghasilkan panen, melainkan membangun karakter warga binaan agar memiliki disiplin, rasa tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta keterampilan yang dapat menjadi modal ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Melalui pembinaan tersebut, warga binaan diperkenalkan dengan teknik budidaya hidroponik yang kini semakin diminati karena efisien, ramah lingkungan, dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Bekal ilmu tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha mandiri sehingga mereka dapat membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.
Kalapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti, Herdianto, melalui Kasi Giatja, Albert, menjelaskan bahwa perawatan tanaman hidroponik merupakan tahapan yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan program pembinaan kemandirian.
Menurutnya, tanaman yang sehat hanya dapat dihasilkan melalui perawatan yang disiplin dan berkesinambungan. Nilai itulah yang ingin ditanamkan kepada warga binaan, yakni bahwa keberhasilan hanya dapat diraih melalui kerja keras, kesabaran, dan tanggung jawab.
“Perawatan rutin tanaman hidroponik merupakan bagian penting dalam menjaga keberhasilan program pembinaan kemandirian. Konsistensi menjadi faktor utama agar menghasilkan pakcoy yang sehat, berkualitas, dan bernilai ekonomis. Selain itu, kegiatan ini memberikan pengalaman serta keterampilan yang dapat menjadi bekal bagi warga binaan setelah kembali ke tengah masyarakat,” ujar Albert.
Program pembinaan produktif ini juga menjadi wujud nyata dukungan Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti terhadap program ketahanan pangan. Di saat kebutuhan pangan berkualitas terus meningkat, warga binaan justru diajak menjadi bagian dari solusi melalui kegiatan yang produktif dan bernilai manfaat.
Keberhasilan program hidroponik tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lapas kini semakin berorientasi pada pemberdayaan. Warga binaan tidak hanya dibina agar menyadari kesalahan, tetapi juga dipersiapkan menjadi pribadi yang produktif, memiliki keterampilan kerja, serta mampu berkontribusi positif bagi keluarga dan masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.
Melalui berbagai inovasi pembinaan yang terus dikembangkan, Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang produktif, humanis, dan berdaya guna. Harapannya, setiap warga binaan yang kembali ke masyarakat bukan hanya membawa status bebas, tetapi juga membawa kemampuan, pengalaman, dan semangat baru untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.
(Red/An)
