Ulasanrakyat.com – Muara Beliti.
Perang terhadap peredaran narkoba, penggunaan handphone ilegal, dan praktik pungutan liar di lingkungan pemasyarakatan terus digencarkan. Untuk memastikan tidak ada celah yang dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu, Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti, Herdianto, turun langsung memberikan penguatan kepada jajaran Petugas Pintu Utama (P2U), Rabu (03/06/2026).
Langkah ini menjadi bagian penting dalam memperkuat komitmen “Zero Halinar” atau zero handphone, pungutan liar, dan narkoba yang saat ini menjadi fokus utama pembenahan di lingkungan pemasyarakatan Indonesia.
Di hadapan seluruh petugas P2U, Herdianto menegaskan bahwa pintu utama merupakan titik paling krusial dalam sistem pengamanan lapas. Seluruh orang, barang, maupun aktivitas keluar masuk lapas berada dalam pengawasan petugas yang bertugas di lini terdepan tersebut.
Karena itu, menurutnya, keberhasilan menciptakan lapas yang aman dan bersih sangat ditentukan oleh ketegasan, integritas, serta profesionalisme petugas P2U dalam menjalankan tugas sehari-hari.
“Petugas P2U adalah benteng pertama pengamanan. Jika benteng ini kuat, maka potensi masuknya barang terlarang dapat dicegah sejak awal. Saya meminta seluruh jajaran meningkatkan kewaspadaan dan tidak memberikan celah sedikit pun terhadap masuknya handphone ilegal, narkoba maupun barang-barang yang dilarang masuk ke dalam lapas,” tegas Herdianto.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam berbagai kasus di Indonesia, masuknya barang terlarang ke dalam lembaga pemasyarakatan sering kali berawal dari lemahnya pengawasan pada akses keluar masuk. Karena itu, penguatan terhadap petugas P2U menjadi langkah strategis untuk memperkokoh sistem deteksi dini dan pencegahan.
Herdianto juga menyoroti pentingnya integritas sebagai pondasi utama keberhasilan program Zero Halinar. Menurutnya, secanggih apa pun sistem pengamanan yang diterapkan, tidak akan berjalan optimal tanpa didukung komitmen dan kejujuran seluruh petugas.
Ia mengingatkan bahwa setiap petugas memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk menjaga marwah institusi pemasyarakatan. Tidak boleh ada kompromi terhadap pelanggaran yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban lapas.
“Keberhasilan program Zero Halinar bukan hanya soal aturan dan pengamanan, tetapi soal komitmen setiap individu. Integritas harus menjadi budaya kerja yang melekat dalam diri setiap petugas,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, seluruh jajaran P2U juga diingatkan untuk selalu bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP), meningkatkan ketelitian dalam pemeriksaan, serta mengedepankan sikap profesional dalam memberikan pelayanan maupun pengawasan.
Penguatan yang diberikan Kalapas ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti dalam mendukung program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia serta Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Program tersebut menargetkan terwujudnya satuan kerja pemasyarakatan yang aman, tertib, bebas dari peredaran narkoba, serta terbebas dari berbagai praktik yang bertentangan dengan aturan dan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
Melalui penguatan ini, diharapkan seluruh petugas P2U semakin memahami posisi strategis mereka sebagai garda terdepan pengamanan lapas. Dengan pengawasan yang semakin ketat dan integritas yang terus diperkuat, komitmen Zero Halinar di Lapas Narkotika Muara Beliti diharapkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar terimplementasi dalam setiap pelaksanaan tugas.
Komitmen tersebut menjadi bukti bahwa Lapas Narkotika Muara Beliti terus bergerak melakukan pembenahan, memperkuat pengawasan, serta menjaga kepercayaan publik melalui terciptanya lingkungan pemasyarakatan yang bersih, aman, tertib, dan berintegritas.
(Red/An)
