Ulasanrakyat.com – Musi Rawas.
Di sudut Desa Giriyoso, Kecamatan Jayaloka, Kabupaten Musi Rawas, suara aktivitas para ibu rumah tangga terdengar dari kebun-kebun kecil di sekitar rumah mereka. Aneka sayuran tumbuh subur, tanaman obat keluarga menghijau, sementara sebagian lainnya sibuk mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai ekonomi.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang yang dimulai sejak lebih dari satu dekade lalu dan terus berkembang hingga kini.
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Giriyoso, Erna, saat ditemui di tempat kerjanya, Sabtu (6/6/2026), menceritakan bagaimana program pemberdayaan yang mengusung tema “Efek Berganda Hulu Migas” telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat desanya.
Desa Giriyoso sendiri merupakan desa paling ujung di Kecamatan Jayaloka dengan luas wilayah mencapai 1.890,10 hektare yang terbagi dalam enam dusun, yakni Dusun I Sukorejo, Dusun II Sidomulyo, Dusun III Giriyoso, Dusun IV Gunungsari, Dusun V Sukodadi, dan Dusun VI Sukajaya.
Menurut Erna, embrio pemberdayaan perempuan melalui Kelompok Wanita Tani telah dirintis sejak 2015. KWT pertama yang terbentuk adalah KWT Mekar Sari di Dusun II dengan jumlah anggota sekitar 30 orang.
“Awalnya kami hanya ingin memanfaatkan lahan pekarangan agar lebih produktif. Namun seiring waktu, banyak ilmu dan pengalaman baru yang kami dapatkan,” ujar Erna.
Saat ini Desa Giriyoso memiliki empat kelompok wanita tani aktif, yaitu KWT Mekar Jaya di Dusun I, KWT Mekar Sari di Dusun II, KWT Sumber Sari di Dusun III, dan KWT Subur Makmur di Dusun IV.
Titik perubahan besar terjadi pada tahun 2018 ketika PT Medco E&P menjalin kerja sama dengan Desa Giriyoso melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Sejumlah fasilitator dan pendamping lapangan, di antaranya Ibu Eni, Yoyo, Yani, Hardi, Domo, Yanto, dan tim lainnya, mulai melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada masyarakat.
Mengusung program sayuran organik dan pertanian ramah lingkungan, para pendamping memberikan pelatihan mulai dari pengolahan tanah, pembuatan kompos, teknik penanaman hingga perawatan tanaman yang baik dan benar.
“Bukan hanya diajarkan cara bercocok tanam, kami juga diberikan pengetahuan tentang pengolahan hasil pertanian menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” kata Erna.
Melalui pendampingan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Hampir setiap rumah mulai memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran, rempah-rempah, bumbu dapur, hingga tanaman obat keluarga (TOGA).
Hasilnya terasa langsung. Kebutuhan dapur sehari-hari dapat dipenuhi dari pekarangan sendiri sehingga mampu mengurangi pengeluaran rumah tangga.
Selain sektor pertanian, para anggota KWT juga mendapatkan pelatihan pengolahan produk herbal dan pangan sehat. Tahun 2019 menjadi momentum lahirnya berbagai produk unggulan desa, seperti serbuk Japleng, serbuk kunyit asam, serbuk daun kelor, hingga minyak kelapa murni atau VCO.
Bagi Erna, pelatihan pembuatan serbuk minuman segar Japleng menjadi salah satu ilmu yang paling berkesan.
“Saya mengikuti program dari Medco untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sampai sekarang usaha serbuk Japleng masih terus berjalan dan menjadi salah satu produk unggulan KWT Mekar Jaya,” tuturnya.
Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa pelatihan. Berbagai sarana dan prasarana produksi juga disalurkan kepada kelompok-kelompok wanita tani. KWT Mekar Jaya memperoleh bantuan peralatan pembuatan serbuk, rumah pembibitan, hingga rumah maggot.
Sementara KWT Mekar Sari mengembangkan usaha budidaya jamur tiram dan aneka produk olahan seperti keripik singkong, crispy jamur, stik jamur tiram, serta serbuk kelor. Untuk mendukung produktivitas, kelompok ini juga menerima bantuan peralatan produksi, termasuk mesin pemotong keripik.
Meski demikian, perjalanan usaha para kelompok wanita tani tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi hingga saat ini adalah pemasaran produk.
“Kendala utama kami memang di pemasaran. Namun Medco juga sudah membantu memasarkan produk kami melalui kantin perusahaan yang rutin diadakan setiap dua minggu sekali,” ungkap Erna.
Bagi masyarakat Giriyoso, program yang hadir dari sektor hulu migas bukan hanya tentang kegiatan perusahaan semata. Lebih dari itu, program tersebut telah melahirkan keterampilan baru, membuka peluang usaha, meningkatkan ketahanan pangan keluarga, dan menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat desa.
Dari pekarangan sederhana hingga produk-produk bernilai ekonomi, kisah para perempuan Desa Giriyoso menjadi bukti bahwa pemberdayaan yang berkelanjutan mampu menciptakan efek berganda yang nyata bagi kehidupan masyarakat.
(Red/An)
