Ulasanrakyat.com – Sukabumi. Di saat banyak orang masih memandang lembaga pemasyarakatan hanya sebagai tempat menjalani hukuman, Lapas Kelas IIA Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, justru menghadirkan fakta berbeda. Dari balik tembok lapas, lahir program ketahanan pangan yang tidak hanya menghasilkan produk pertanian dan peternakan, tetapi juga mampu membangun rumah bagi masyarakat kurang mampu.
Keberhasilan tersebut mendapat perhatian langsung dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, saat melakukan kunjungan kerja ke Lapas Warung Kiara, Kamis (11/06/2026). Kunjungan itu dilakukan dalam rangka memastikan program ketahanan pangan berjalan optimal sebagai bagian dari dukungan terhadap visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan nasional.
Saat meninjau lokasi, Agus menyaksikan bagaimana lahan seluas tujuh hektare yang berada di area lapas telah disulap menjadi kawasan produktif. Puluhan warga binaan terlibat langsung dalam pengelolaan pertanian, perkebunan sayur dan buah, hingga peternakan yang hasilnya mampu memberikan nilai ekonomi berkelanjutan.
Menurut Agus, program tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas tidak lagi hanya berorientasi pada aspek keamanan dan penegakan hukum. Pemasyarakatan saat ini harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan kesiapan untuk kembali hidup produktif di tengah masyarakat.
“Pembinaan yang baik adalah pembinaan yang menghasilkan perubahan. Warga binaan harus dibekali kemampuan nyata agar ketika bebas nanti mereka memiliki bekal untuk bekerja, berusaha, dan hidup mandiri,” ujarnya.
Namun yang membuat program ini menjadi sorotan bukan hanya hasil pertanian atau peternakannya. Lebih dari itu, keuntungan dari unit usaha produktif yang dikelola warga binaan ternyata digunakan untuk membantu masyarakat sekitar.
Sebagian hasil usaha tersebut dialokasikan untuk pembangunan lima unit rumah layak huni dan satu rumah ibadah. Bahkan proses pembangunan dilakukan dengan melibatkan warga binaan yang telah melewati asesmen khusus dan dinilai layak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kondisi ini menghadirkan sebuah ironi yang menginspirasi. Mereka yang tengah menjalani masa pidana justru ikut membangun harapan bagi masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal yang lebih layak.
Program tersebut menjadi contoh nyata bagaimana konsep pemasyarakatan modern mampu menghadirkan manfaat ganda. Di satu sisi mendukung program strategis pemerintah dalam bidang ketahanan pangan, sementara di sisi lain menciptakan dampak sosial yang langsung dirasakan masyarakat.
Agus Andrianto menilai model pembinaan seperti yang diterapkan di Lapas Warung Kiara layak dijadikan percontohan nasional. Menurutnya, integrasi antara kegiatan produktif, pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian sosial merupakan formula ideal dalam membangun sistem pemasyarakatan yang lebih maju.
Keberadaan lahan pertanian dan peternakan di lingkungan lapas tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga membentuk karakter warga binaan menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan produktif. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting ketika mereka kembali ke masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan kebutuhan peningkatan produksi pangan nasional, langkah yang dilakukan Lapas Warung Kiara membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan dapat menjadi bagian dari solusi. Tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan, tetapi juga membantu menciptakan perubahan sosial yang nyata.
Kisah dari Warung Kiara menjadi bukti bahwa kesempatan kedua selalu ada. Ketika pembinaan dilakukan dengan pendekatan yang tepat, warga binaan tidak hanya belajar memperbaiki diri, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan masyarakat.
Dari lahan pertanian hingga pembangunan rumah warga, Lapas Warung Kiara menunjukkan bahwa di balik jeruji besi, harapan masih bisa tumbuh. Bahkan, dari tempat yang selama ini identik dengan hukuman, lahir manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
(Red/An)
