Ulasanrakyat.com – Muara Beliti,
Komitmen Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti dalam mendukung pemberdayaan masyarakat tidak hanya sebatas pembinaan sosial. Melalui program desa binaan, lembaga pemasyarakatan ini terus menunjukkan peran aktifnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan melakukan monitoring dan pendampingan terhadap usaha produksi tempe yang dikelola warga.Kamis (11/6/2026).
Langkah ini menjadi bukti bahwa Lapas Narkotika Muara Beliti hadir sebagai mitra pembangunan masyarakat. Dengan turun langsung ke lapangan, petugas memastikan usaha yang telah dibina dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar.
Tim monitoring meninjau secara langsung seluruh proses produksi tempe, mulai dari pemilihan dan pengolahan bahan baku, proses fermentasi, hingga tahap pengemasan produk. Peninjauan ini dilakukan untuk melihat perkembangan usaha sekaligus memberikan masukan agar kualitas produksi semakin meningkat dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Kegiatan monitoring tersebut dipimpin oleh Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Narkotika Muara Beliti, Albert. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pesan Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti, Herdianto, mengenai pentingnya keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat melalui desa binaan.
Menurut Albert, program desa binaan bukan hanya sekadar kegiatan pendampingan, melainkan upaya nyata untuk menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi.
“Sesuai arahan Bapak Kalapas Herdianto, kegiatan monitoring ini merupakan bentuk komitmen Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti dalam mendukung kemandirian ekonomi masyarakat. Kami berharap usaha produksi tempe ini dapat terus berkembang, meningkatkan kualitas produk, serta memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat desa binaan,” ujar Albert.
Selain melakukan evaluasi produksi, petugas juga memberikan berbagai masukan terkait penerapan standar kebersihan dalam proses pengolahan makanan, teknik pengemasan yang lebih menarik, hingga strategi pemasaran agar produk tempe hasil masyarakat dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Program ini dinilai sangat penting karena usaha mikro berbasis pangan seperti produksi tempe memiliki potensi besar dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga motivasi untuk terus mengembangkan usahanya.
Kehadiran petugas Lapas di lokasi produksi mendapat sambutan positif dari masyarakat desa binaan. Warga mengaku terbantu dengan perhatian dan pendampingan yang selama ini diberikan. Mereka berharap program tersebut dapat terus berjalan sehingga usaha yang dirintis mampu berkembang dan menjadi sumber penghasilan yang lebih stabil.
Bagi masyarakat, dukungan yang diberikan Lapas Narkotika Muara Beliti menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah dan warga dapat menghasilkan program pemberdayaan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Melalui kegiatan monitoring ini, Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari solusi dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Tidak hanya menjalankan fungsi pemasyarakatan, Lapas juga berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.
Ke depan, program desa binaan diharapkan mampu melahirkan lebih banyak usaha produktif yang berkembang, membuka peluang kerja baru, serta menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di tingkat desa. Dengan kolaborasi yang terus diperkuat, masyarakat desa binaan diyakini akan semakin mampu berdiri mandiri dan meningkatkan taraf hidupnya secara berkelanjutan.
(Red/An)
