Ulasanrakyat.Com — Musi Rawas.
Kunjungan kerja Kapolda Sumatera Selatan, Sandi Nugroho, ke Polres Musi Rawas, Rabu (29/4/2026), bukan sekadar agenda formal institusi kepolisian. Di balik deretan kegiatan resmi, terselip sebuah momen sederhana yang justru mencuri perhatian dan menyentuh sisi kemanusiaan banyak orang.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kapolda menghadiri apel sabuk kamtibmas, meresmikan gedung SPKT, menggelar bakti sosial dan kesehatan, hingga mengikuti istighosah di Ponpes Walisongo, Kabupaten Musi Rawas. Namun, bukan itu yang paling membekas di hati para undangan.
Sorotan justru tertuju pada pertemuan hangat antara Kapolda dengan seorang warga sederhana bernama Jumono, warga Desa Wonosari, Kecamatan Megang Sakti. Di tengah kegiatan bakti sosial, Jumono dengan penuh rasa haru maju menghampiri Kapolda, membawa bingkisan makanan tradisional gethuk hasil buatannya sendiri.
Bukan tanpa alasan. Jumono adalah sosok yang baru saja tertimpa musibah kebakaran rumah beberapa pekan lalu. Di saat banyak orang mungkin memilih berdiam diri dalam kesulitan, ia justru datang dengan membawa simbol rasa syukur.
Momen itu semakin bermakna ketika diketahui bahwa Jumono merupakan salah satu penerima bantuan program bedah rumah dari kepolisian. Rumahnya yang sebelumnya hangus kini telah berdiri kembali, dan secara langsung kunci rumah tersebut diserahkan oleh Kapolda dalam kunjungan tersebut.
Kapolres Musi Rawas, Agung Adhitya Prananta, membenarkan peristiwa tersebut dan mengungkapkan reaksi Kapolda yang tak bisa menyembunyikan rasa harunya.
“Gethuk itu dibawa langsung oleh Bapak Kapolda ke Palembang. Beliau sangat antusias sekaligus terharu. Ini bukan soal nilai, tapi ketulusan dari masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran Kapolda dalam penyerahan kunci rumah menjadi bukti nyata komitmen Polri dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Pak Jumono ini mengalami musibah kebakaran. Alhamdulillah rumahnya sudah selesai kita bangun kembali. Kebetulan ada kunjungan Kapolda, beliau bisa langsung menyerahkan kunci rumah secara simbolis,” jelasnya.
Peristiwa ini menjadi gambaran kontras di tengah berbagai kritik terhadap aparat penegak hukum. Di satu sisi, publik kerap menuntut profesionalisme dan keadilan. Namun di sisi lain, momen seperti ini menunjukkan wajah humanis Polri yang hadir secara nyata di tengah masyarakat.
Kapolres menegaskan bahwa jajarannya akan terus mendukung program Kapolda Sumsel yang mengusung semangat kepedulian sosial.
“Kami terus mengajak seluruh anggota untuk bertanya pada diri sendiri, sudahkah berbuat baik hari ini. Polri harus hadir, bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tegasnya.
Gethuk yang mungkin terlihat sederhana itu kini menjadi simbol kuat. Bukan sekadar makanan tradisional, tetapi representasi hubungan emosional antara rakyat kecil dan aparat negara—hubungan yang dibangun dari empati, kepedulian, dan tindakan nyata.
Di tengah dinamika sosial dan tantangan kepercayaan publik, kisah Jumono dan gethuknya menjadi pengingat: bahwa kepercayaan tidak lahir dari kata-kata, melainkan dari aksi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
(Red/An)
