banner 728x250

Air PDAM Diduga Keluarkan Anak Ular, Warga Sidorejo Trauma dan Putus Sambungan, Feri Isrop Turun Langsung Temui Pelanggan

Ulasanrakyat.com – Lubuklinggau. Pelayanan PDAM Tirta Bukit Sulap (TBS) Kota Lubuklinggau kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, keluhan datang dari seorang pelanggan di Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, yang mengaku mengalami kejadian mengejutkan saat menemukan anak-anak ular keluar melalui aliran pipa air menuju rumahnya.

Peristiwa tersebut memicu kekecewaan mendalam dari pelanggan bernama Asna. Bahkan, rasa trauma yang ditimbulkan membuat dirinya memutuskan untuk menghentikan penggunaan layanan PDAM dan beralih menggunakan sumur sebagai sumber air bersih keluarga.

Kabar tersebut langsung mendapat perhatian dari salah satu calon Direktur PDAM Tirta Bukit Sulap periode 2026-2031, Feri Isrop, SH., CPLA. Tanpa menunggu lama, Feri turun langsung menemui warga untuk mendengarkan keluhan secara langsung sekaligus menyerap aspirasi masyarakat terkait pelayanan air bersih.

Saat berdialog dengan Feri Isrop pada Minggu (21/06/2026), Asna mengungkapkan rasa kecewanya terhadap pelayanan PDAM yang menurutnya tidak hanya terkait munculnya anak ular dari saluran air, tetapi juga kualitas air yang dinilai jauh dari harapan pelanggan.

“Semenjak kejadian munculnya anak-anak ular yang keluar dari pipa sambungan rumah saya, saya sangat terkejut dan shock. Tidak hanya itu, kualitas air juga buruk, keruh, berkarat, dan tidak layak untuk dikonsumsi. Mirisnya lagi, air sering tidak mengalir padahal kami sangat membutuhkannya. Sementara pembayaran per bulan biasanya sekitar Rp200 ribu,” ungkap Asna.

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama dan membuat keluarganya kehilangan kepercayaan terhadap pelayanan perusahaan daerah yang seharusnya menjadi penyedia kebutuhan dasar masyarakat.

Asna mengaku sebelumnya telah mengajukan pemutusan sambungan pelanggan kepada pihak PDAM Tirta Bukit Sulap. Keputusan itu diambil setelah berbagai keluhan yang dirasakan tidak kunjung memberikan perubahan berarti.

“Sekarang kami sudah memutuskan aliran PDAM dan beralih menggunakan sumur,” tegasnya.

Keluhan tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan pelayanan air bersih masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi. Air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat yang tidak hanya menyangkut kenyamanan, tetapi juga kesehatan dan keselamatan warga.

Menanggapi aspirasi tersebut, Feri Isrop menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang berani menyampaikan keluhan secara terbuka. Menurutnya, setiap masukan dari pelanggan harus menjadi bahan evaluasi demi menghadirkan pelayanan yang lebih baik di masa mendatang.

Dengan nada tenang dan penuh empati, Feri menyampaikan bahwa berbagai persoalan yang dikeluhkan masyarakat harus menjadi perhatian serius bagi manajemen perusahaan daerah.

“Saya mengucapkan terima kasih atas dialog dan masukan yang telah disampaikan. Semoga persoalan seperti ini ke depan dapat teratasi. Apa yang telah ibu sampaikan mengenai keluhannya di era menuju perubahan akan menjadi prioritas utama dan menjadi catatan penting,” ujar Feri Isrop.

Feri menegaskan bahwa pelayanan air bersih merupakan hak masyarakat yang harus dipenuhi dengan standar kualitas yang baik, kontinuitas distribusi yang terjaga, serta jaminan keamanan bagi pelanggan.

Kunjungan langsung ke rumah warga tersebut dinilai sebagai bentuk keseriusan dalam mendengar suara pelanggan yang selama ini merasakan dampak langsung dari berbagai persoalan pelayanan. Langkah turun ke lapangan dan berdialog langsung dengan masyarakat juga menjadi bentuk pendekatan yang dianggap lebih memahami kebutuhan nyata pelanggan.

Persoalan yang disampaikan warga Sidorejo diharapkan menjadi perhatian seluruh pihak terkait agar kualitas pelayanan PDAM Tirta Bukit Sulap dapat terus diperbaiki. Sebab, kepercayaan masyarakat terhadap layanan air bersih hanya dapat dibangun melalui pelayanan yang profesional, transparan, dan berpihak kepada kebutuhan pelanggan.

Di tengah harapan perubahan yang digaungkan masyarakat, suara pelanggan seperti Asna menjadi pengingat bahwa pelayanan publik yang baik bukan sekadar janji, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan perbaikan berkelanjutan.

(Red/An)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *