Ulasanrakyat.com – Muara Beliti.
Upaya mendorong kemandirian ekonomi warga binaan terus dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Muara Beliti. Kali ini, langkah pembenahan menyasar sektor pemasaran produk hasil karya warga binaan melalui pemanfaatan teknologi pembayaran digital. Bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Lapas Narkotika Muara Beliti mulai menjajaki kerja sama strategis terkait pembukaan rekening dan penyediaan fasilitas pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Kunjungan pihak BRI ke Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti menjadi langkah awal pembahasan rencana kerja sama melalui nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Kerja sama tersebut diproyeksikan menjadi salah satu terobosan dalam meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperluas akses pemasaran produk unggulan yang dihasilkan melalui program Kegiatan Kerja (Giatja).
Rencana penyediaan QRIS bukan sekadar menghadirkan alternatif metode pembayaran. Lebih dari itu, langkah ini menjadi bagian dari transformasi pengelolaan usaha produktif warga binaan agar mampu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin terbiasa dengan transaksi nontunai.
Selama ini, produk hasil kegiatan kerja warga binaan memiliki potensi untuk dikembangkan dan dipasarkan kepada masyarakat luas. Namun, kemudahan transaksi menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan agar proses jual beli berlangsung lebih praktis, cepat, dan transparan.
Melalui fasilitas QRIS yang direncanakan ditempatkan di area Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), masyarakat, keluarga warga binaan, hingga para pengunjung nantinya dapat membeli berbagai produk hasil karya warga binaan dengan melakukan pembayaran secara digital.
Dengan demikian, konsumen tidak lagi harus bergantung pada pembayaran tunai. Cukup menggunakan aplikasi pembayaran digital atau layanan perbankan yang mendukung QRIS, transaksi pembelian produk dapat dilakukan secara lebih mudah.
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti, Herdianto, melalui Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja), Albert Haryadi, menyampaikan bahwa rencana pemanfaatan QRIS merupakan bagian dari upaya meningkatkan kemudahan pelayanan kepada konsumen sekaligus memperbaiki tata kelola pemasaran produk Giatja.
Menurutnya, inovasi pembayaran digital diharapkan dapat memberikan pengalaman transaksi yang lebih baik bagi masyarakat. Di sisi lain, sistem tersebut juga menjadi langkah untuk meningkatkan profesionalitas pengelolaan hasil kegiatan kerja warga binaan.
Digitalisasi transaksi juga diharapkan membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Kemudahan pembayaran menjadi salah satu faktor pendukung agar produk hasil karya warga binaan semakin dikenal, diminati, dan memiliki daya saing di tengah masyarakat.
Di balik rencana penyediaan fasilitas QRIS tersebut, terdapat tujuan yang lebih besar, yakni memperkuat pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
Program Giatja merupakan salah satu ruang pembinaan produktif yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk mengembangkan keterampilan, menghasilkan karya, serta membangun kemampuan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Karena itu, hasil kegiatan kerja tidak cukup hanya berhenti pada proses produksi. Produk yang dihasilkan juga perlu mendapatkan dukungan pemasaran, pengelolaan transaksi, serta akses kepada konsumen agar memiliki nilai ekonomi yang semakin baik.
Kehadiran fasilitas pembayaran digital diharapkan dapat menjadi salah satu penghubung antara kreativitas warga binaan dengan kebutuhan pasar. Semakin mudah masyarakat membeli produk, semakin terbuka pula peluang bagi hasil karya warga binaan untuk dikenal dan dipasarkan secara lebih luas.
Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku, tetapi juga memberikan ruang bagi warga binaan untuk membangun keterampilan, produktivitas, dan kesiapan menjalani kehidupan yang lebih mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.
Melalui sinergi dengan Bank BRI, Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti berupaya menghadirkan pelayanan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus memperkuat ekosistem pembinaan berbasis produktivitas.
Ke depan, rencana kerja sama ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti sehingga fasilitas QRIS dapat dimanfaatkan untuk mendukung transaksi penjualan produk unggulan Giatja.
Inovasi tersebut menjadi pesan bahwa keterbatasan ruang tidak seharusnya membatasi kesempatan untuk berkarya. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, dukungan pemasaran, serta kemudahan akses transaksi, warga binaan tetap memiliki kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai dan membangun masa depan yang lebih baik.
Dari balik tembok pemasyarakatan, karya warga binaan kini dipersiapkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Digitalisasi bukan hanya tentang kemudahan membayar, tetapi juga tentang membuka kesempatan, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan kemandirian.
(Red/An)













