Ulasanrakyat.com – Palembang.
SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mencatat sejarah baru dengan menggelar Workshop dan Kompetisi Media Sumatera Selatan 2026 yang untuk pertama kalinya melibatkan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah Sumsel. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Emilia Palembang, Senin (29/06/2026), menjadi momentum memperkuat sinergi antara industri hulu migas dan insan pers di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Antusiasme insan pers terhadap kompetisi tersebut meningkat tajam. Panitia mencatat lebih dari 95 media berpartisipasi dengan lebih dari 100 karya jurnalistik yang masuk. Bahkan, setelah masa pendaftaran diperpanjang dari 10 Juni hingga 15 Juni 2026, masih banyak wartawan yang meminta kesempatan untuk mengirimkan karya.
Fenomena itu menunjukkan tingginya minat jurnalis Sumatera Selatan dalam meningkatkan kualitas karya jurnalistik sekaligus memperdalam pemahaman mengenai industri hulu migas.
Manager Field Relation and Community Enhancement Medco E&P Indonesia, Hermawan Eko Prabowo, mengatakan kegiatan ini merupakan kebanggaan bagi seluruh KKKS di Sumatera Selatan karena menjadi ajang kolaborasi pertama yang melibatkan seluruh perusahaan migas dalam satu forum bersama insan pers.
“Kegiatan ini bukan hanya lomba karya jurnalistik, tetapi menjadi wadah mempererat hubungan antara industri migas dengan media. Kami percaya komunikasi yang baik antara perusahaan, regulator, dan media merupakan pondasi utama dalam membangun kepercayaan publik,” ujarnya.
Hermawan juga mengungkapkan peningkatan jumlah peserta dibandingkan tahun sebelumnya menjadi bukti bahwa hubungan antara industri migas dan media semakin kuat.
Selain kompetisi jurnalistik, peserta mendapatkan materi mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam produksi konten jurnalistik. Materi tersebut dinilai penting karena perkembangan teknologi telah mengubah pola kerja wartawan secara signifikan.
Komisi Kompetensi Wartawan PWI Pusat, Dr. H. Firdaus Komar, S.Pd., M.Si, mengingatkan bahwa AI tidak boleh menggantikan tanggung jawab jurnalistik.
Menurutnya, penggunaan AI diperbolehkan sepanjang digunakan sebagai alat bantu dan dilakukan secara terbuka kepada publik.
“Kalau menggunakan AI harus disampaikan secara jujur. Jangan sampai hasil yang dibantu AI diakui sepenuhnya sebagai karya sendiri. Yang paling penting dalam jurnalistik tetaplah kebenaran informasi,” tegas Firdaus.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi tidak boleh menggeser prinsip dasar jurnalistik, yakni verifikasi, konfirmasi, independensi, serta kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik.
“Wartawan boleh memanfaatkan teknologi secanggih apa pun, tetapi tetap harus berpihak pada fakta. Jangan sampai AI justru melahirkan berita palsu karena tidak dilakukan proses konfirmasi,” katanya.
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Safe’i, S.H., M.H, mengatakan media memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan industri hulu migas.
Menurutnya, SKK Migas tidak mungkin menyampaikan seluruh informasi kepada masyarakat tanpa dukungan media yang profesional.
“Media adalah mitra utama kami. Melalui media, masyarakat dapat mengetahui bagaimana industri hulu migas bekerja, kontribusinya terhadap negara, hingga manfaatnya bagi daerah,” ujar Safe’i.
Ia menjelaskan bahwa industri hulu migas tidak hanya berperan dalam eksplorasi dan produksi minyak serta gas bumi, tetapi juga menjadi penggerak investasi, pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Dalam mendukung program ketahanan energi nasional, SKK Migas bersama seluruh KKKS membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk media massa.
Karena itu, kompetisi media tidak sekadar menjadi ajang mencari pemenang, tetapi diharapkan mampu melahirkan karya jurnalistik berkualitas yang memberikan edukasi kepada masyarakat.
Menariknya, tingginya jumlah karya yang masuk membuat SKK Migas mengusulkan agar seluruh tulisan peserta tidak berhenti sebagai dokumen lomba.
Safe’i berharap karya-karya tersebut dapat dihimpun menjadi sebuah buku yang menjadi dokumentasi perjalanan industri hulu migas di Sumatera Selatan.
“Bukan hanya menjadi karya lomba, tetapi menjadi legacy yang bisa dibaca masyarakat, pemerintah daerah, mahasiswa, hingga generasi berikutnya mengenai kontribusi industri migas di Sumatera Selatan,” ujarnya.
Direktur TVMu sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Makroen Sanjaya, M.Sos, menjelaskan bahwa AI merupakan revolusi baru dalam dunia jurnalistik.
Ia mengisahkan bagaimana dahulu wartawan membutuhkan waktu berjam-jam mengirim foto dan berita dari daerah ke kantor redaksi. Kini, semua dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik melalui telepon genggam.
Namun menurutnya, kemudahan teknologi juga membawa risiko besar apabila wartawan hanya mengandalkan AI tanpa melakukan verifikasi.
“AI bukan malaikat. AI hanya alat bantu. Jangan sampai wartawan hanya menyalin informasi dari internet tanpa melakukan konfirmasi kepada narasumber. Di situlah awal munculnya berita palsu,” tegasnya.
Makroen menilai masa depan jurnalistik tetap berada di tangan wartawan yang mampu menggabungkan kecanggihan teknologi dengan integritas, etika, dan kemampuan melakukan verifikasi lapangan.
Workshop dan Kompetisi Media Sumatera Selatan 2026 pun diharapkan menjadi awal lahirnya jurnalisme yang semakin profesional, adaptif terhadap teknologi, namun tetap menjunjung tinggi akurasi, keberimbangan, dan kepentingan publik.
(Red/An)

















