banner 728x250

Dr. Ir. Holidi: Karhutla Tak Cukup Ditangani Petugas, Butuh Kolaborasi Mahasiswa

Ulasanrakyat.com – Musi Rawas.
Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup hanya mengandalkan petugas di lapangan. Kesadaran masyarakat, penguatan pengetahuan generasi muda, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penting untuk menekan risiko kebakaran yang mengancam kelestarian lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kehidupan sosial ekonomi.

Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Kampanye Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan yang diselenggarakan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera bersama Universitas Musi Rawas (Unmura), di Auditorium Pemerintah Kabupaten Musi Rawas, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan yang melibatkan kalangan akademisi dan sekitar 200 mahasiswa serta mahasiswi Unmura ini menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman generasi muda tentang pentingnya pencegahan dan pengendalian karhutla. Lebih dari sekadar kegiatan edukasi, kampanye tersebut diharapkan menjadi titik awal kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan instansi kehutanan.

Keterlibatan mahasiswa dinilai penting karena mereka tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Dengan bekal pengetahuan yang tepat, mahasiswa dapat ikut menyebarkan informasi pencegahan karhutla, membangun kepedulian terhadap lingkungan, serta mendorong perubahan perilaku yang lebih bertanggung jawab.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unmura, Dr. Ir. Holidi, M.Si., saat diwawancarai wartawan di lokasi kegiatan, menyampaikan bahwa kuliah umum bersama Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumater bertujuan memberikan edukasi kepada mahasiswa mengenai upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, kegiatan semacam ini relevan untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus membangun kesadaran bahwa penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk perguruan tinggi dan generasi muda.

Terlebih, persoalan karhutla masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia. Sumatera Selatan, termasuk wilayah Musi Rawas, juga menghadapi risiko kebakaran yang dapat menimbulkan dampak lingkungan dan gangguan kesehatan akibat kabut asap.

Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan vegetasi dan habitat satwa, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas udara, mengganggu aktivitas masyarakat, serta menimbulkan kerugian ekonomi. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara serius dan berkesinambungan, bukan hanya ketika kebakaran sudah terjadi.

Edukasi kepada mahasiswa menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat upaya tersebut. Melalui pemahaman mengenai penyebab, risiko, pencegahan, dan pengendalian karhutla, mahasiswa diharapkan mampu melihat persoalan kebakaran hutan dan lahan secara lebih luas, termasuk kaitannya dengan tata kelola lingkungan dan tanggung jawab sosial.

Selain memperkuat edukasi lingkungan, kegiatan ini juga membuka peluang kerja sama antara Unmura dan instansi kehutanan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kampanye atau kuliah umum semata. Perguruan tinggi memiliki potensi besar untuk mendukung upaya pengendalian karhutla melalui pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Dalam bidang pendidikan, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai persoalan karhutla dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam bidang penelitian, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui kajian mengenai penyebab kebakaran, risiko lingkungan, dampak kabut asap, hingga strategi pencegahan yang sesuai dengan kondisi wilayah.

Sementara itu, melalui pengabdian kepada masyarakat, civitas akademika dapat mendorong kegiatan sosialisasi, penyebaran informasi, dan peningkatan kesadaran warga mengenai bahaya pembakaran yang tidak terkendali serta pentingnya menjaga lingkungan.

Sinergi antara dunia akademik dan instansi kehutanan juga dapat mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman praktis di lapangan. Dengan demikian, upaya pencegahan karhutla dapat dikembangkan melalui pendekatan yang lebih terarah, berbasis pengetahuan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi Unmura, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab persoalan lingkungan yang terjadi di sekitar masyarakat.

Di tengah ancaman karhutla, mahasiswa memiliki ruang untuk mengambil peran nyata. Kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dengan tindakan besar, tetapi dapat diwujudkan melalui langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan bertanggung jawab.

Mahasiswa dapat berkontribusi dengan meningkatkan literasi lingkungan, menyampaikan informasi pencegahan karhutla kepada masyarakat, mendukung kegiatan edukasi, serta mendorong pelaporan dini apabila menemukan indikasi kebakaran melalui saluran resmi yang berwenang.

Bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan persoalan nyata di lapangan. Pengetahuan mengenai ekosistem, pencemaran udara, konservasi, dan pengelolaan lingkungan dapat menjadi bekal untuk memahami dampak karhutla secara menyeluruh.

Namun, peran mahasiswa bukan menggantikan tugas petugas pemadam kebakaran atau aparat berwenang. Kontribusi yang dapat dilakukan adalah mendukung pencegahan, meningkatkan kesadaran publik, membantu penyebaran informasi yang benar, serta membangun budaya peduli lingkungan tanpa mengabaikan keselamatan diri.

Apabila didukung dengan kerja sama yang konsisten antara kampus, pemerintah, instansi kehutanan, dan masyarakat, potensi generasi muda dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun sistem pencegahan karhutla yang lebih kuat.

Kampanye pencegahan karhutla tersebut dihadiri jajaran pimpinan dan civitas akademika Universitas Musi Rawas. Di antaranya Rektor I Unmura, Prof. Dr. Ir. Eddy Ibrahim, MS, CP., IPU., APEC.Eng., ACPE; Wakil Rektor I, Dr. Etty Safryiani, SP., M.Si.; Wakil Rektor II, Dr. Wartono, M.Si.; Direktur Pascasarjana, Dr. Ir. John Bimasri, M.Si.; serta Kepala LPPM, Dr. Ir. Holidi, M.Si.
Turut hadir Kepala LP3MP, Nila Suryati, SP., M.Si., beserta para dekan, ketua program studi, dan dosen di lingkungan Universitas Musi Rawas. Kegiatan ini juga diikuti sekitar 200 mahasiswa dan mahasiswi Unmura.

Kehadiran jajaran pimpinan perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa menunjukkan pentingnya dukungan institusi pendidikan dalam memperluas edukasi mengenai persoalan lingkungan. Kampus tidak hanya menjadi tempat untuk mengembangkan pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab sosial, dan keterlibatan generasi muda dalam menghadapi tantangan lingkungan.

Kegiatan kampanye pencegahan karhutla ini diharapkan menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara Universitas Musi Rawas dan instansi kehutanan. Keberlanjutan program menjadi hal penting agar pengetahuan yang diperoleh mahasiswa dapat diterapkan dalam kegiatan akademik maupun kehidupan bermasyarakat.

Ke depan, kolaborasi dapat dikembangkan melalui kuliah umum lanjutan, diskusi ilmiah, penelitian bersama, sosialisasi lingkungan, hingga kegiatan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Langkah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pengendalian karhutla tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga saja. Pemerintah dan petugas berwenang membutuhkan dukungan masyarakat, sedangkan perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan, riset, dan penguatan kesadaran publik.

Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan karhutla tidak hanya diukur dari penanganan kebakaran ketika api sudah muncul, tetapi juga dari kemampuan seluruh pihak mengurangi risiko sejak dini.

Melalui edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan, mahasiswa Unmura diharapkan dapat menjadi bagian dari gerakan peduli lingkungan yang mendorong masyarakat lebih waspada, bertanggung jawab, dan aktif menjaga kelestarian hutan serta lahan.

Pesannya jelas: menjaga hutan dan lahan bukan hanya tugas petugas di lapangan, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika pengetahuan bertemu kepedulian dan kolaborasi diwujudkan dalam tindakan nyata, generasi muda dapat mengambil peran penting dalam mencegah karhutla dan melindungi masa depan lingkungan.

(Red/An)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *