Ulasanrakyat.com – Musi Rawas.
Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup hanya mengandalkan petugas di lapangan. Kesadaran masyarakat, keterlibatan generasi muda, serta kolaborasi seluruh elemen menjadi kunci utama untuk menekan risiko kebakaran yang dapat mengancam kelestarian lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kehidupan sosial ekonomi.
Pesan tersebut ditegaskan Kepala Seksi Wilayah III, Didik Suprijono, S.Hut., saat diwawancarai wartawan seusai kegiatan Kampanye Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Auditorium Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas, Kamis (22/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Dua Ratusan Mahasiswa universitas Musi Rawas (Unmura).
Didik menjelaskan, kampanye tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesadaran sekaligus pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan karhutla. Menurutnya, keberhasilan pengendalian kebakaran hutan dan lahan harus dimulai dari langkah pencegahan yang dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.
“Terima kasih, kegiatan hari ini merupakan kampanye pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Ini menjadi bagian dari upaya kami untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat dalam pengendalian kebakaran, terutama pada aspek pencegahannya,” ujar Didik.
Didik menegaskan, upaya pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Tidak hanya petugas dan pemerintah, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum juga memiliki peran penting dalam membangun budaya peduli lingkungan.
Menurutnya, pengendalian karhutla akan lebih efektif apabila seluruh elemen masyarakat memahami bahaya kebakaran dan memiliki kesadaran untuk mengambil tindakan pencegahan sejak dini.
Karena itu, kampanye pencegahan tidak semata-mata menjadi kegiatan penyampaian informasi, tetapi juga diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar.
Keterlibatan berbagai kelompok masyarakat dinilai penting agar pesan pencegahan tidak berhenti di ruang kegiatan. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga, teman, lingkungan kampus, hingga masyarakat di tempat tinggal masing-masing.
“Dalam melakukan upaya pencegahan, kami melibatkan berbagai elemen, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat. Semua elemen diharapkan dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pencegahan karhutla bukan hanya tanggung jawab satu instansi. Diperlukan kepedulian kolektif agar masyarakat tidak bersikap pasif ketika menghadapi potensi kebakaran di lingkungan sekitarnya.
Salah satu kelompok yang mendapat perhatian dalam kampanye tersebut adalah mahasiswa dan generasi muda. Didik berharap kalangan muda mampu mengambil peran nyata dalam membantu pemerintah mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Mahasiswa dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak edukasi lingkungan karena berada dalam lingkungan pendidikan yang memungkinkan penyebaran informasi dan pembentukan kesadaran secara lebih luas.
Peran tersebut dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran yang berisiko memicu kebakaran, serta menyebarkan informasi mengenai bahaya dan pencegahan karhutla.
Di lingkungan kampus, mahasiswa dapat membangun kebiasaan peduli lingkungan melalui kegiatan edukasi, diskusi, kampanye, dan berbagai aktivitas positif yang mendorong perilaku bertanggung jawab terhadap alam.
Sementara di lingkungan tempat tinggal, generasi muda diharapkan mampu menjadi contoh bagi masyarakat dengan mengajak keluarga dan warga sekitar untuk lebih berhati-hati dalam mengelola lahan serta tidak melakukan pembakaran secara sembarangan.
Didik menilai, keterlibatan generasi muda sangat penting karena upaya pencegahan membutuhkan kesadaran yang tumbuh dari masyarakat sendiri, bukan semata-mata karena adanya pengawasan petugas.
“Kami berharap mahasiswa dan generasi muda dapat berperan aktif membantu pemerintah dalam upaya pencegahan kebakaran, baik dari lingkungan kecil maupun lingkungan yang lebih luas, termasuk di kampus dan tempat tinggal masing-masing,” ungkapnya.
Didik juga menekankan pentingnya memperluas edukasi kepada kelompok masyarakat lainnya. Menurutnya, langkah pencegahan akan semakin kuat apabila setiap orang bersedia menyampaikan pengetahuan yang dimiliki kepada orang-orang di sekitarnya.
Pendekatan dari lingkungan terkecil dianggap penting karena kesadaran menjaga alam dapat dibangun melalui kebiasaan sehari-hari. Keluarga, lingkungan pergaulan, kampus, dan komunitas masyarakat dapat menjadi ruang awal untuk menanamkan pemahaman mengenai bahaya karhutla.
Apabila edukasi dilakukan secara konsisten, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan persoalan sepele. Dampaknya dapat meluas, mulai dari kerusakan ekosistem, hilangnya vegetasi, gangguan terhadap satwa, hingga pencemaran udara yang berisiko mengganggu kesehatan.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa mencegah kebakaran jauh lebih baik daripada menghadapi dampak setelah api telanjur meluas. Kesadaran untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar secara tidak terkendali merupakan salah satu bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.
Selain itu, masyarakat juga diharapkan tidak mengabaikan tanda-tanda awal kebakaran. Apabila menemukan titik api atau kondisi yang berpotensi menimbulkan kebakaran, warga perlu segera melaporkannya kepada petugas atau pihak berwenang agar dapat ditangani dengan tepat.
Dengan demikian, edukasi lingkungan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang dapat dilakukan oleh setiap lapisan masyarakat.
Kampanye pencegahan karhutla di Kabupaten Musi Rawas menjadi momentum untuk memperkuat pesan bahwa perlindungan hutan dan lahan memerlukan keterlibatan seluruh pihak.
Pemerintah dan petugas memiliki peran dalam pengendalian serta penanganan kebakaran, tetapi masyarakat juga memegang peranan penting dalam mencegah munculnya sumber api. Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat luas menjadi bagian penting dalam membangun sistem pencegahan yang lebih kuat.
Harapan yang disampaikan Didik Suprijono menunjukkan bahwa generasi muda tidak seharusnya hanya menjadi penerima informasi. Mereka diharapkan mampu meneruskan pesan pencegahan, memengaruhi lingkungan sekitarnya, serta mengambil bagian dalam menjaga kelestarian alam.
Keberhasilan kampanye pada akhirnya tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat setelah kegiatan selesai.
Pesan utamanya jelas: pencegahan karhutla harus dimulai sebelum api muncul, dan tanggung jawab menjaganya berada di tangan semua pihak.
Melalui keterlibatan aktif generasi muda dan edukasi yang menjangkau masyarakat secara luas, upaya pencegahan diharapkan semakin kuat sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan serta kelestarian lingkungan tetap terjaga untuk generasi mendatang.
(Red/An)













