Ulasanrakyat.Com – Muara Beliti.
Peringatan Hari Jadi ke-83 Kabupaten Musi Rawas yang berlangsung di lapangan SMP Negeri Kelurahan Pasar Muara Beliti, Senin (27/04/2026), menghadirkan lebih dari sekadar upacara seremonial. Di tengah suasana khidmat dan penuh semangat kebersamaan, terselip pesan kuat yang relevan dengan tantangan zaman: kemajuan daerah hanya bisa dicapai melalui kerja kolektif yang nyata.
Upacara yang diikuti siswa-siswi SMP Negeri Muara Beliti ini menjadi gambaran sederhana namun bermakna tentang masa depan. Generasi muda berdiri rapi di lapangan, bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai simbol harapan—bahwa estafet pembangunan akan berada di tangan mereka.
Momentum ini menjadi refleksi perjalanan panjang daerah sekaligus pengingat bahwa usia ke-83 bukanlah titik akhir, melainkan fase penting untuk mempercepat langkah. Terlebih di tengah tuntutan menuju Indonesia Emas 2045, kesiapan sumber daya manusia dan kekuatan kolaborasi menjadi faktor penentu.
Camat Muara Beliti, Supriadi, M.Pd, yang bertindak sebagai pembina upacara, menunjukkan wajah kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat. Didampingi Ketua Tim Penggerak PKK, Siti Lastri, beserta anggota, kehadiran mereka memperlihatkan bahwa pembangunan tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga dan pemberdayaan masyarakat.
Namun yang paling mencolok adalah kuatnya kehadiran lintas sektor. Unsur TNI-Polri melalui Danposramil dan Kapolsek Muara Beliti, jajaran kepala sekolah, tenaga kesehatan UPT Puskesmas, hingga seluruh pegawai kecamatan dan tamu undangan, hadir dalam satu barisan kebersamaan. Ini bukan sekadar simbol, melainkan cerminan bahwa fondasi sinergi sebenarnya sudah terbentuk.
Dunia pendidikan pun tampil sebagai aktor utama. Kepala sekolah se-Kecamatan Muara Beliti bersama dewan guru dan tenaga kependidikan menjadi garda terdepan dalam menyiapkan generasi unggul. Di sinilah titik krusialnya: jika pendidikan kuat, maka arah pembangunan akan lebih terarah dan berkelanjutan.
Tema “Musi Rawas Mantabkan Menuju Sumsel Maju, Indonesia Emas 2045” menjadi garis tegas bahwa daerah ini tidak ingin berjalan di tempat. Kata “mantabkan” mengandung makna penguatan—bahwa apa yang sudah baik harus dipertegas, dan yang belum optimal harus segera diperbaiki.
Beriringan dengan peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30, momentum ini sekaligus menjadi bahan refleksi kritis. Otonomi daerah seharusnya melahirkan inovasi, kemandirian, dan percepatan pelayanan publik. Pertanyaannya, sejauh mana itu sudah benar-benar dirasakan masyarakat?
Dari lapangan SMP Negeri Muara Beliti, satu pesan besar mengemuka: kemajuan Kabupaten Musi Rawas tidak cukup dirayakan setiap tahun. Ia harus diperjuangkan setiap hari melalui kerja nyata, kolaborasi yang konsisten, dan semangat gotong royong yang tidak pernah padam.
Jika sinergi yang terlihat hari ini mampu dijaga, maka Kabupaten Musi Rawas memiliki peluang besar untuk benar-benar melompat menjadi daerah yang maju, mandiri, bermartabat, dan berdaya saing tinggi.
Momentum 83 tahun ini pada akhirnya menjadi pengingat tajam: keberhasilan daerah tidak ditentukan oleh seberapa sering dirayakan, tetapi seberapa serius dibangun.
(Red/An).

















